Sunday, 1 March 2015

Semarang : Sam Poo Kong

Episode semarang ada yang tertinggal, salah satu tempat yang bisa dikunjungi saat di Semarang selain gedung-gedung tuanya adalah Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng yang konon adalah tempat untuk menghormati Laksamana Cheng Ho. Sosok yang kalau di Jawa timur terkenal dengan nama masjidnya yang ada di Surabaya dan Pasuruan, Masjid Cheng Ho.


Dari pinggir jalan raya kita bisa mengenalinya langsung dari cat merah menyala dan tentunya tulisan Sam Poo Kong yang dipasang besar-besar. Pas kita kesana lagi rame-ramenya pengunjung karena bertepatan dengan tanggal merah.


Sebelum masuk kawasan klentengnya, kita dikenakan biaya masuk 3rb rupiah per orang untuk turis lokal. Jangan lupa antri yaaa


Kawasan ini terdiri dari beberapa bangunan, yang di foto atas adalah salah satu bangunan yang bisa digunakan pengunjung umum. Kalo dua yang lainnya tertutup untuk umum kecuali bagi yang sembahyang di sana. Di tengahnya ada semacam plaza luas yang juga digunakan pengunjung berfoto ria.


Ini penjelasan yang terdapat di patung cheng ho, atau penulisannya di sini zheng he. Satu-satunya patung paling besar di sana.


Ini salah satu bangunan yang tidak dibuka untuk umum, karena hanya digunakan untuk pengunjung yang sembahyang/ melakukan ritual.


Salah satu patung yang terletak di tengah plaza bersama beberapa patung lainnya. Yang tidak kami temukan ini sebenernya patung siapa, karena cuma ada tulisan semacam donasi dari seseorang.


Senja di Sam Poo Kong cukup cantik, sambil menunggu petang emang kita sengaja masih gelosoran di sana sambil mengamati orang yang berlalu lalang.

Foto : Immash, Niken
Liputan : Immash

Banyuwangi : Kawah Ijen (2)

Masih lanjutan dari edisi Ijen (1)


Nah, kalo yang ini 'oleh-oleh' belerang yang bisa dibawa pulang, harganya cukup terjangkau. Saya kemarin beli dua kura-kura mini 5rb perak. Bisa ditemui sepanjang perjalanan pendakian. 



Nah, ini jalan setapak yang dekat dengan kawah, sekitar 1 km kita melewati jalur yang semacam ini. Jadi hati-hati sama yang sebelah kiri ya. Di beberapa titik terlihat tanahnya sedikit longsor. Tapi pemandangan menyejukkan mata waktu turun sedikit mengobati kaki-kaki yang mulai berkonde. 


Tuh kan, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu distakan?


Rehat sebentar di Pos Bunder, di sini kamu bisa beli minuman, makanan, ke toilet atau sekedar duduk-duduk aja buka bekel yang kita bawa.


Perjalanan di lanjut setelah duduk bentar di Pos Bunder, dan kita berpapasan dengan ... tandu manusia #eh. Apa ya istilahnya? intinya karena ada pengunjung yang sepertinya tidak sanggup mendaki, jadi ada jasa khusus untuk mengantar mereka dari bawah sampai ke kawah. 


ini nih yang harus dibudayakan, jangan buang sampah sembarangan. Karena terlihat juga di sana-sini beberapa sampah nangkring dengan enaknya. Jadilah turis, traveler, explorer yang menjaga tempat yang kita kunjungi.

Foto : Syarif
Liputan : Immash

Banyuwangi : Kawah Ijen

Holaaa, edisi baru kali ini tentang Ijen. Sebuah kawah yang konon kabarnya memiliki blue fire yang hanya bisa diliahat jelang dini hari. Tapi... kita belum sempet untuk menyaksikan secara lebih dekat karena himbauan salah satu guide yang berujar tentang kemanan yang kurang terjamin. Dan ternyata malah beberapa hari setelah kami mendaki malam hari untuk melihat blue fire, ada himbauan kalo mendaki malam hari ditutup sementara karena aktifitas gas yang lebih berbahaya pada malam hari. So, lebih baik jika ingin ke Ijen dicek dulu aja tentang izin pendakiannya ya, biar lebih aman. Kalo mimin kemarin sempet tanya beberapa hari sebelum fix ke Ijen, ke salah satu provider paket wisata Banyuwangi (meskipun kita nggak pake paket wisatanya), Yuk Banyuwangi (Pin BB: 536DDDD0) tentang pendakian malam hari. In syaa Allah dijawab dengan sukacita oleh CS nya, hehe. Makasih CS Yuk Banyuwangi atas infonya. :)



Sebelum memulai mendaki ke kawah ijen, semua pengunjung transit di Pos Paltuding yang merupakan pos akhir tempat parkir mobil. Jadi dari sinilah pendakian dimulai. Fasilitas cukup lengkap kok, ada musholla, warung makan, toilet. Jadi mending prepare dulu kalo belum makan atau butuh ke toilet, karena pos berikutnya cukup jauh dari Paltuding. (foto diambil waktu kita udah turun dari kawah ijen)



Kontur Jalan yang dilewati pendaki sudah cukup mudah sebenarnya, nggak sempit dan nggak becek (saat itu musim hujan). Tapi kadang ada beberapa jalan lobang atau pohon yang melintang di jalan. Jadi kalo mendaki malam, jangan lupa pake senter. Air minum juga jangan lupa, soalnya di sepanjang jalan nggak ada orang jualan air apalagi indom*ret. :P Kecuali pos bunder yang jaraknya sekitar 2 km dari Paltuding. 


Kalo menurut saya emang pasnya mendaki malam hari, selain adanya blue fire pas nyampe kawahnya. Keuntungan mendaki malam hari adalah kita tidak terlalu bisa melihat jalanan dengan jelas, jadi meskipun jalurnya nanjak hampir sepanjang perjalanan kita nggak begitu melihat tanjakan yang mungkin malah membuat kita semakin enggan untuk melangkah. Hehe


Blue Fire ada di bawah sana, kami hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Bersama puluhan bahkan mungkin ratusan pendaki lainnya. Mengamatinya dari jauh sambil menunggu subuh datang.


Fajar semakin menyingsing, sebelumnya kita sudah sholat subuh duluan, meski di terjalnya bebatuan dan keramaian orang di sekitar kita. Karena yang namanya shalat ya harus tetap dijalankan to? apalagi nggak bisa dijamak kalo shalat subuh. 
Kawah hijau biru yang cantikpun segera menyambut pagi juga. Duduk sambil senyam senyum sendiri kali ya saya waktu itu, hehe. 


View yang lebih luas, kawah dikelilingi bukit batu berwarna pucat.


Ini nih salah satu penambang belerang tradisional yang tiap harinya ngangkut belerang dari kawah ke bawah sana, dengan berat hampir satu kwintal, bisa dibayangin keseimbangan dan kekuatan dari bapak-bapak penambang belerang yang ada di sana. Jangan lupa di sapa ya! :D



Matahari semakin naik, saatnya turun dari kawah. Ini jalan yang mengelilingi kawah dan yang bisa dilalui pengunjung dari jalur Paltuding. Waktu masih gelap, kami melihat beberapa orang terlihat duduk-duduk atau rebahan di sisi ini. 

Foto : Syarif, Rosiful, Immash
Liputan : Immash